
Rabu, 01 April 2009
HDR ON MY PHOTOGRAPH

Rabu, 25 Maret 2009
NEVER ENDING SYLVALESTARI FROM MY PHOTOGRAPH
Pagi-pagi aku berangkat dari Jakarta. Sengaja mencari hari yang sedikit terbebas dari rutinitas sebuah kota metropolitan, yaitu sabtu. Puih lumayan spedometer sempat menyentuh kecepatan 80 Km/jam. sebuah kejadian yang sangat langka untuk berkendara di sebuah kota yang bernama Jakarta
Tiba di Bogor pun masih pagi, kalo kangen dengan udara sejuk dan tidak macet, ternyata masih aku dapatkan pada jam-jam segitu. Terus putar stir hingga pada suatu tempat yang aku tuju, yaitu sebuah bangunan tua dan dengan kekokohan yang dipaksakan di jalan Rasamala Nomor 4 Darmaga-Bogor.
Sebelum ku tarik D-90 ku, aku sempat berdiam lama tepat didepan bangunan itu.
Rasamala-4 adalah Sylvalestari.. Bagiku dia bukan sekedar bongkahan bangunan tua, lembab dan berlumut,… Tidak pula bermakna personal, apalagi bermakna Ritual.. Tapi Aku Pernah terlahir darinya.. sebagai sosok yang punya RASA dan punya HATI.
Kali ini aku mengambil posisi pada bagian Kanan bangunan. Aku sedikit tersenyum, ditempat itu dulu aku sering menghabiskan waktuku tiap pagi, untuk mencuci dan membersihkan mobil punya pacarku yang setiap hari dititipkan di Asrama. Tempat itu tidak banyak berubah bahkan nyaris tidak berubah.
Pada Lantai II tampak dengan jelas kamar nomor 11 yang berada tepat didepan musholla asrama. Disana aku menghabiskan waktuku pada akhir masa perkuliahan. Hmm, kamar itu semakin terlihat beku dan lembab. Aku tersenyum menyapa, karena aku melihat dan merasakan seolah ia juga memberikan sapaan kerinduan.
Pada bagian depan adalah ruang Riung yang tak pernah sepi pengunjung (baik dari dalam maupun luar asrama). Tak terhitung berapa seruput kopi, berapa batang rokok, berapa buah lagu yang pernah disajikan dari tempat itu
Di bawah namamu kami menyatu …..Ramah Penghuninya dan Rukun Hidupnya … Asrama SYLVALESTARI
Salam Lestari
HULU RIAM MAHAKAM ON MY PHOTOGRAPH
Daerah Hulu Riam merupakan sebuah klasifikasi wilayah yang diistilahkan oleh Pemerintah Kalimantan Timur untuk menyebut wilayah hulu sungai Mahakam. Wilayah ini menjadi salah satu titik sumber mata air aliran sungai Mahakam yang melintasi 3 wilayah Kabupaten dan Kota yaitu Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda.
Sebagian besar permukaan wilayah Hulu Riam masih memiliki tutupan lahan berupa hutan belantara. Berbagai jenis Flora dan Fauna khas Hutan Hujan Tripos (
Jenis Pohon-pohon Komersial dengan ukuran diameter yang tidak lazim dan dengan nilai jual sangat tinggi, masih banyak ditemukan diwilayah. Kegiatan Pengusahaan Hutan menjadikan jenis-jenis seperti Kayu Meranti (Shorea, sp), Kayu Kapur ( Dryobalanops aromatic), sebagai primadona yang paling diminati.
Kegiatan eksploitasi hutan alam yang menghasilkan ribuan kubik kayu gelondongan merupakan salah satu upaya untuk dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut. Aktifitas seperti ini berjalan sejak tahun 1970-an hingga saat ini. Ditinjau dari sebuah konsep sylvikultur (pemuliaan Hutan), maka mekanisme pengusahaan hutan alam melalui pemberian ijin HPH, merupakan sebuah mupaya melakukan manipulasi proses alamiah terhadap konsep regenerasi hutan. Sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah yang telah ditetapkan, semestinya katifitas HPH tidak akan pernah merusak ekosistem hutan hujan tropis Kalimantan Timur.
Masyarakat Pedalaman yang tinggial di wilayah Hulu Riam, umumnya memiliki matapencaharian sebagai petani. Mereka menempati kawasan-kawasan yang terdapat pada sisi kanan-kiri sungai Mahakam untuk tinggal dan bermukim. Aktifitas pertanian dilakukan melalui system Perladangan Berpindah ; sebuah model pertanian tradisional yang sangat bergantung pada kelimpahan sumber daya lahan. Pola pembakaran hutan merupakan aktifitas rutin yang dilakukan sebelum memulai kegiatan musim tanam.
Bekas-bekas pertanian yang telah ditinggalkan sementara seiring dengan berjalannya waktu berubah menjadi
Wilayah Hulu Riam (kecamatan Long Bagun, Long Apari dan Long Pahangai) menyimpan sumber kekayaan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, berupa keindahan alam yang tak ternilai. Masyarakay memimpikan agar kawasan-kawasan tersebut suatu ketika dapat menjadi sebuah wahana wisata yang eksotis untuk dikunjungi.
Dan sore itu mereka dan rombongan kembali menuju Samarinda, setelah beberapa saat mereka tinggal, berdiam, bekerja dan melihat segala sesuatu yang terdapat di wilayah Hulu Riam Mahakam. Dan mereka juga tidak tahu apa yang akan terjadi esok dan esok.
Perjalanan Hulu Riam 2008
Senin, 23 Maret 2009
THE KHOETAI MOSEUM FROM MY PHOTOGRAPH
Moseum Kutai Kartanegara merupakan bangunan bersejarah yang dulunya merupakan tahta kesultanan Raja Khoetai. Dalam usianya yang sudah mencapai ratusan tahun, museum ini masih tegak berdiri dengan menyimpan banyak peninggalan-peninggalan bersejarah.Bangunan Kesultanan Khoetai dibangun dengan desain yang sederhana dan sangat kokoh. Hingga diperankannya bangunan tersebut sebagai Museum sejarah kerajaan Khoetai, wujud dan tata ruang bangunan tidak banyak mengalami perubahan yang berarti.

Sebagai salah satu obyek wisata unggulan Kabupaten Kutai Kartanegara, Museum Khoetai terletak ditepian sungai Mahakam di wilayah Kota Tenggarong sebagai ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara. Posisinya yang strategis serta nilia sejarah yang terkandung di dalamnya, menjadikan bangunan ini memiliki daya tarik bagi para wisatawan.

Menapaki bagian dalam museum, Para pengunjung akan diberikan suguhan pemandangan berupa singgasana para raja yang pernah bertahta di kerajaan Khoetai Kartanegara. Selanjutnya para pengunjung dapat mengelilingi seluruh sudut bagian dalam moseum yang menyimpan berbagai peninggalan masa lampau , benda-benda pusaka maupun pernik-pernik budaya masyarakat yang berdiam di wilayah kerajaan Khoetai pada masa itu hingga sekarang.
Gambar di atas merupakan Mahkota Kebesaran Raja Khoetai Kartanegara, yang dikenakan pada saat Sang Sultan berkuasa .
Kerajinan manik-manik juga dapat digunakan untuk menghiasi tas-tas (semacam ransel) yang dikenal sebagai Anjat ataupun sikutan. Oleh masyarakat Dayak di pedalaman, benda ini biasanya difungsikan sebagai tas serbaguna.

Disamping itu, bagi para sesepuh adat, hiasan manik-manik juga digunakan untuk mempercantik topi yang dikenakan pada setiap upacara adat dan keagamaan. Bagi kalangan tertentu, ornamen berupa taring harimau maupun taring beruang, juga disematkan sebagai hiasan mahkota adat dayak tersebut.
Manakala Mandau (sejenis parang atau golok yang menjadi senjata khas warga Dayak) digunakan sebagai sylbol dalam berbagai acara adat. maka keberadaan manik-manik juga digunakan sebagai ornamen yang dapat mempercantik penampilan senjata mematikan tersebut. Sebuah kesan Kekerasan yang dipadu dengan keindahan seni.
Pada bagian dalam Ruang Museum, kita juga dapat menemukan keris yang merupakan persembahan cindera mata raja-raja Jawa pada masa itu sebagai bentuk penghargaan saat melakukan kunjungan.
Pada sisi ain do dalam ruangan museum, kita juga dapat menemukan Kitab Suci Alquran, sebagai salah satu bentuk kekuatan Islam yang pernah ada pada masa lampau.
Minggu, 22 Maret 2009
KAGUMI CIPTAANNYA DAN BERSYUKUR
Kamera, apapun mereknya dan apapun modelnya adalah buah dari olah pikir manusia yang bernama teknologi. Bagi sebagian basar awam, memandang kamera tidak lebih dari seonggok barang yang hanya bermanfaat untuk membuat sebuah kenang-kenangan. Bahkan seringkali disalahgunakan untuk mengabadikan momentum yang tidak layak untuk diabadikan.Manakala kita mau dan mampu menangkap makna yang terkandung dari semua yang telah di ciptakan Nya , sekecil apapun ia, maka disana kita akan mendapatkan sebuah kenikmatan dan keindahan, yang tidak akan dapat dirasakan oleh orang lain . Inilah sebuah esensi dari kata Syukur.


Sabtu, 21 Maret 2009
DIBERANDA RUMAH-MU FROM MY PHOTOGRAPH

Masjid Raya Samarinda bagiku adalah sebuah inisiasi pendahuluan. Sebuah keberadaan mayoritas umat Muslim di Kota Samarinda. Detil ruang bagian dalam dipenuhi dengan sebuah rancanangan arsitektur yang megah dan dikemas dalam sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan sebuah ajaran Islam yang tumbuh di tepian sungai Mahakam.

Islamic Center Samarinda adalah Sisi lain Inisiasi eksistensi Kaum Muslim di Kota ini, selain Masjid Raya Samarinda. Menghampar pada bidang tanah yang cukup luas di tepian sungai mahakam. Pagi ini aku tak dapat memejamkan mata dan terpanggil untuk datang, bersimpuh dan mengabadikannya dalam sebuah rekam kamera.
Ya Allah, ijinkan aku datang. Gapura raksasa yang menjadi pintu gerbang Islamic center, seolah menyapaku dengan ucapan salam yang menggetarkan hati. Aku luluh.

Ketakjubanku tek berhenti manakala aku mulai memasuki beranda rumah-Mu ya Allah. sebuah pelataran luas yang dikelilingi oleh koridor yang menghubungkan ke semua sisi bangunan menjadi pemandangan dominan yang dapat dinikmati pada pelataran itu. semua bernuansa kemewahan batu alam berwarna coklat.
Aku masih menikmati kemegahan itu dari salahsatu sisi koridor yang menghadap ke pelataran. Lantunan merdu ayat-ayat-Mu terlantun dari pucuk menara yang menjulang di langit Mu. Ya Allah aku mendengarkan lantunan panggilanmu.

Aku terus menikmati ketakjubanku pagi ini melalui berada rumah Mu ya Allah. Aku ingin senantiasa Kau perintahkan malaikatmu untuk terus dan terus mengetik pintu hatiku esok dan esok. Aku Rindu di jalan Mu ya Alah..Ijinkan aku kembali walau hanya di beranda rumah Mu.
THE MYSTICAL OF RED FROM MY PHOTOGRAPH

Klenteng Samarinda, terletak diseberang pelabuhan laut Samarinda. Usianya yang telah mencapai ratusan tahun, tak surut memancarkan kesan mistis yang sangat kuat . secara keseluruhan, bangunan ini memiliki harmony tone warna merah yang tidak lazim akibat perpaduan kesan merah, hitam, dan kuning.
Siang itu aku mencoba mendekat dan bersentuhan dengan bangunan itu. Bertemu dengan seorang Bapak, sangat ramah, dan menemaniku masuk kedalam ruang ritual.

Sisi samping bangunan klenteng merupakan halaman, yang mungkin juga dimanfaatkan sebagai sarana ibadah. Disana ada perapian, taman, kafetaria, dan pintu masuk samping. Ornamen naga kembar bertahta di atas atap bangunan utama.
Ruang dalam peribadatan tidak terlepas aroma dupa-hio. Kepulan asap yang menyesakkan dada, merupakan sebuah media yang mampu menghantarkan sebuah penyatuan diri pada Yang Kuasa.
Pada sebuah sisi ruang peribadatan aku melihat Pancaran sinar matahari yang mampu menembus altar sesembahan.Aku menyaksikannya dengan seksama. dan mampu menangkap sebuah kekhusu’an ritual , kepasrahan seorang hamba pada tuhannya.
Aku tidak dapat bercerita banyak. Klenteng adalah sebuah nuansa baru dalam kehidupanku. Aku berharap foto-fotoku mampu bercerita tentang sebuah kemegahan ritual yang pernah mengusikku keingintahuanku.












